Saturday, February 19, 2011

Nilai-nilai tauhid dalam ibadah Haji

By DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A., 
Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima, seorang muslim yang secara finansial cukup dan secara fisik mampu, wajib baginya untuk segera melaksanakan kewajiban ini. Ibadah haji mempunyai banyak keutamaan, diantaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rosulullah saw dalam beberapa hadistnya :

Pertama : Haji Mabrur pahalanya adalah syurga, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج مبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rosulullah saw bersabda : “  Umrah sampai umrah berikutnya merupakan  kaffarat ( penebus dosa ) yang dilakukan antara keduanya , dan haji mabrur tidak ada pahalanya kecuali syuga ( HR Bukhari dan Muslim )

Kedua : Haji Mabrur akan dihapus segala dosanya selama ini, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من حج فلم يرفث ولم يفسق ، رجع كيوم ولدته أمه

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata: Saya pernah mendengar Rosulullah saw : ” Barang siapa yang melakukan iabdah haji sedang dia tidak melakukan tindakan  rafast ( melanggar aturan haji ) dan fasik, niscaya dia akan pulang ke kampungnya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan oleh ibunya ( HR Bukhari dan Muslim )

Ketiga : Haji Mabrur lebih utama ( khusus bagi wanita ) dari pada ikut berjihad di jalan Allah, sebagaimana hadist Aisyah ra di bawah ini :

عن عائشة رضى الله عنها ، قالت : قلت : يا رسول الله ، نرى الجهاد أفضل العمل أفلا نجاهد ؟ قال : لكن أفضل من الجهاد حج مبرور

Dari Aisyah ra, berkata bahwasanya ia pernah berkata : ” Wahai Rossulullah saw, kami melihat bahwa jihad merupakan amalan yang utama, bolehkan kami ikut berjihad ? Sabda Rosulullah saw : ” Akan tetapi saya tunjukkan amalan yang lebih utama dari jihad yaitu haji yang mabrur ( HR Bukhari )

Keutamaan –keutamaan tersebut hanya akan diraih oleh orang yang telah memenuhi syarat- syarat  yang telah ditentukan oleh Allah dan Rosul-Nya untuk dapat diterima amal ibadahnya, yaitu niat ikhlas hanya mencari ridha Allah dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah saw.

Selain itu, ibadat haji sebenarnya mengandung ajaran-ajaran tauhid yang saat ini banyak kaum muslimin yang tidak memperhatikannya, padahal tauhid merupakan tujuan utama dari ibadah haji itu sendiri.

Diantara nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji adalah sebagai berikut :

Nilai Tauhid Pertama :

Seseorang yang hendak melaksanakan haji, diharuskan untuk melakukan ” Ihram “, yaitu berniat haji hanya untuk mencari ridha Allah swt. Hal ini menunjukkan nilai tauhid yang sangat tinggi, karena kalau dia melaksanakan haji sekedar untuk pamer dan ingin dikatakan pak haji atau bu haji, ataupun hanya sekedar ingin bekerja mencari uang, tentunya ibadah hajinya tidak akan diterima oleh Allah swt. Inilah salah satu makna kalimat ” La ilaha illallah ” , yaitu tidak bertindak, beramal maupun beribadat kecuali hanya mencari ridho Allah swt.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan : Apakah dibolehkan melaksanakan ibadah haji sekaligus bekerja atau berdagang ? Jawabannya dibolehkan bagi seorang yang melakukan ibadah haji untuk sambil berniaga atau bekerja, tersebut dalam firman Allah swt :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu” . ( Qs Al Baqarah : 198 )

Hanya saja kebolehan ini disyaratkan untuk tetap menjadikan  ibadah haji sebagai tujuan utamanya dan berniaga sebagai pekerjaan sambilan. Namun   kenyataannya sekarang,  bahwa ibadah haji telah menjadi barang komoditi bagi orang-orang yang mau memanfaatkan amalan akherat sebagai sarana untuk mencari keuntungan dunia. Fenomena semacam ini sangat mempengaruhi cara beribadah, bermuamalah dan berpikir pada sebagian besar kaum muslimin. Dan inilah rahasia kenapa selalu ada kasus dan masalah dalam penyelenggaran ibadah haji di negara kita. Kecenderungan untuk selalu mengejar keuntungan dunia yang sebanyak-banyaknya tanpa  mengindahkan kode etik ajaran Islam membuat suasana haji yang mestinya diliputi dengan kekhusu’an, keikhlasan, kaharuan dan keimananan itu berubah menjadi ketegangan, kekerasan, ketakutan, kecemasan dan kebimbangan.  Tidak jarang disela-sela ibadah haji terjadi pencurian, penipuan, perampokan, perampasan, penggelapan uang, pelecehan seksual , bahkan pemerkosaan. Ketika musim haji tiba, mestinya orang-orang yang berniat melakukan ibadah haji mempersiapkan diri dengan memperbaiki niat dan mempelajari cara-cara melakukan ritual manasik haji yang  sesuai dengan tuntutan Rosulullah saw, akan tetapi yang kita dapati sekarang bahwa yang menjadi pikiran sebagian dari kaum muslimin yang berangkat ke tanah suci adalah bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya pada musim tersebut, walaupun harus melanggar ajaran-ajaran Islam.

Nilai Tauhid Kedua :

Ketika ber-” ihram ” seorang laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan pakaian yang berjahit maupun yang berbentuk pakaian jadi, dan disunnahkan untuk memilih warna putih.  Hal ini sebagai pesan bahwa Allah swt tidaklah melihat kepada bentuk dan wajah manusia akan tetapi yang dilihat adalah hati dan ketaqwaan. Ini sesuai dengan sabda Rosulullah saw :

إن الله لا ينظر إلى صوركم و لا إلى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan fisik kamu, akan tetapi Allah hanya melihat kepada hati dan amal perbuatanmu ”

Selain itu, pakaian ihram yang serba putih mengingatkan kita bahwa manusia suatu saat akan menghadap Allah swt di akherat nanti tanpa membawa harta, keluarga, jabatan dan gelar, akan tetapi yang dibawa adalah amalan dan ibadahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah saw :

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أوعلم ينتفع به ، وولد صالح يدعو له

Jika anak Adam mati, maka terputus amal perbuatannya kecuali tiga hal : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya ( HR Muslim )

Oleh karenanya, ketika salah satu dari kaum muslimin yang meninggal dunia, tidak boleh kuburannya dibangun dan dihiasai sebagaimana menghiasi gedung. Dan anehnya yang terjadi  di negara-negara kapilatis yang maju, mereka memakaikan baju yang terbaik untuk orang yang sudah meningal, bahkan terkadang menyertakan barang-barang kesayangannya ke dalam liang kuburannya, selain itu kuburan –kuburan mereka dibangun dan dihiasi bagai  gedung-gedung yang megah. Dalam ayat lain Allah berfirman :

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga) (QS.  Saba’ : 37 )

Adapun pakaian ihram yang berwarna putih menunjukkan bahwa untuk menghadap Allah dibutuhkan kesucian  dan kebersihan hati dari noda-noda syirik, dan dari niat mencari selain ridha Alah swt, dibutuhkan juga kebersihan hati dari rasa dengki , hasad dan iri, serta kebersihan hati dari tanggungan orang lain. Oleh karenanya, dianjurkan pada setiap orang yang hendak melaksanakan ibadah haji untuk melunasi hutang –piutangnya terlebih dahulu, mengembalikan pinjaman dan titipan, meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakitinya, dan  memohon do’a restu dari orang tua dan para ulama. Hal itu dimaksudkan agar dalam melaksanakan ibadah haji nanti, hatinya sudah bersih, tenang pikirannya, bahkan siap setiap saat untuk menghadap Allah jika dipanggil Allah swt di tanah suci nanti. Sungguh sangat benar firman Allah :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, ( QS. Asy-Syu’ara : 88-89 )

Nilai Tauhid Ketiga :

Setelah melakukan ” ihram “, orang yang melaksanakan ibadah haji dianjurkan untuk secara terus menerus mengucapkan do’a ” talbiyah “   yang berbunyi :

لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك ، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

Ya Allah , kami menjawab panggilan-Mu secara terus menerus, tiada sekutu bagi-Mu, sesunnguhnya segala pujian dan nikmat hanyalah milik-Mu , begitu juga seluruh kerajaan ( langit dan bumi ) hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu . ”

Diriwayatkan bahwa Amru bin Lahyi seorang raja yang cukup lama memerintah  daerah Makkah dan sekitarnya, pada suatu ketika dia dengan beberapa rombongan datang ke kerajaan Roma, di sana rombongan raja tersebut mendapatkan orang-orang Romawi menyembah berhala, dan mereka tertarik untuk mengikutinya, sehingga beberapa patung sempat diboyong ke Mekkah untuk dijadikan sesembahan. Ketika Amru bin Lahyi hendak melakukan umrah, dia mengucapkan : ” Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaik ” , mendengar hal itu, syetan tidak senang dan hendak menyesatkannya. Untuk tujuan tersebut dia merubah dirinya menjadi manusia dan berkata kepada Amru bin Lahyi : ” Wahai baginda raja, doa talbiyah itu masih ada tambahannya, yaitu :  ” Illa syarikan huwa laka ( kecuali satu sekutu  milik-Mu). Mendengar pernyataan syetan tersebut Amru bin Lahyi bergetar hatinya dan merasa takut. Gelagat seperti itu tidak disia-siakan oleh syetan, kemudian dia meneruskannya : ” Tamlikuhu wama laka ” ( Engkau memiliki sekutu tersebut dan apa-apa yang sudah menjadi milik-Mu)

Sejak peristiwa itu, diketahui bahwa Amru bin Lahyi ini adalah orang pertama kali yang memasukkan kalimat syirik dan mencampuradukkan dengan kalimat talbiyah dalam haji di tanah Arab.  Rosulullah saw  bersabda dalam hadist Isra’ Mi’raj :

عرضت عليَّ النَّار ؛ فرأيت فيها عمرو بن لحي يجرُّ قصبه في النار

Diperlihatkan kepadaku api neraka, dan saya melihat usus perut Amri bin Lahyi diseret  ke dalam api neraka ”

Nilai Tauhid Keempat :

Orang yang melaksanakan ibadah haji ketika sampai di Mekkah diperintahkan untuk melakukan thowaf sebanyak tujuh kali, dan disunnahkan untuk mencium ” hajar aswad “. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra. ketika mencium hajar aswad pernah berkata kepada batu tersebut: ” Saya mengetahui bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak memberikan madharat dan manfaat, kalau bukan karena saya pernah melihat Rosulullah saw mencium-mu, maka aku tidak akan menciummu. ”

Perintah untuk mencium hajar aswad yang tidak lebih dari sebuah batu tersebut memberikan pesan bahwa dalam beribadah ini, kadang kita tidak mengetahui hikmah dibaliknya, atau perbuatan tersebut tidak masuk akal kita, tetapi  karena itu adalah perintah Allah dan Rosul-Nya, maka kita sebagai orang yang beriman wajib mendengar dan taat tanpa mencari-cari alasan. Dalam hal ini Allah swt berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Dan tidak sepatutnya bagi orang laki-laki yang beriman dan begitu juga perempuan yang beriman, jika Allah dan Rosul-Nya telah memutuskan suatu keputusan, akan ada pilihan lain dalam urusan tersebut. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rosul-Nya, maka sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata . ” ( Qs Al Ahzab : 36 )


Ayat di atas memberikan pengertian bahwa salah satu makna dari  kalimat ” Lailaha illallah ” adalah bahwa tiada yang boleh ditaati perintah-Nya secara mutlak kecuali perintah Allah swt dan perintah Rosul-Nya saja, walaupun kadang-kadang perintah tersebut tidak ataupun belum bisa kita cerna secara akal sehat, bukankah kita setiap hari melakukan sholat lima waktu dengan jumlah rekaat tertentu, dan banyak dari kita yang tidak tahu akan hikmah dibalik bilangan-bilangan rekaat dalam sholat tersebut ?

Di sisi lain, kita dapati umat agama lain selain Islam, mereka mentaati para pemimpin dan pendeta, serta tokoh-tokoh agama mereka secara membabi buta, walaupun sering bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah :

اتخذوا اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.( Qs At Taubah : 31 )

Diriwayatkan bahwa ketika mendengar ayat tersebut Adi Bn Hatim, salah seorang sahabat yang pernah memeluk agama Nasrani berkata Rosulullah saw : Wahai Rosulullah saw sebenarnya kami tidak menyembah para pendeta tersebut dan tidak sujud kepada mereka ? Kemudian Rosulullah bertanya kepadanya : ” Akan tetapi bukankah jika para pendeta tersebut mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah kemudian kamu mentaatinya ? ” Benar ya Rsoulullah ” Jawab Adi bin Hatim. Kemudian Rosulullah saw bersabda : ” Itulah maksud  menyembah para pendeta ” ( HR Ahmad dan Tirmidzi )

Nilai Tauhid Kelima :

Setelah melakukan thowaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali, seorang yang melakukan ibadah haji diperintahkan untuk melakukan sholat dua reka’at di belakang maqam nabi Ibrahim. Kenapa ? Hal itu untuk mengingatkan akan  jasa-jasa nabi Ibrahim as, yang dijadikan Allah swt  sebagi bapak tauhid, karena telah meletakkan dasar-dasar tauhid bagi kehidupan manusia sesudahnya.

Selain itu, pada waktu sholat dua reka’aat tersebut disunnahkan untuk membaca surat Al Kafirun pada reka’at pertama. Surat Al Kafirun itu berisi tentang perlepasan diri dari seluruh apa yang disembah kecuali Allah swt , dan pada reka’at kedua disunnahkan untuk membaca suratAl Ikhlas yang berisi tentang ke-Esaan Allah swt.

Ini semua memberikan pesan kepada kita bahwa kalimat tauhid harus selalu disebut dan dipelajari serta digali secara terus menerus, untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nilai Tauhid Keenam :

Setelah melakukan thowaf tujuh kali, dan sholat dua rek’at dibelakang maqam Ibrahim, diperintahkan untuk melakukan Sa’I antara Shofa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ibadat ini mengingatkan kepada kita akan  peristiwa yang dialami oleh Siti Hajar bersama anaknya Ismail yang pada waktu itu masih bayi. Mereka berdua ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tengah –tengah gurun pasir yang kering, gersang dan panas. Ketika Siti Hajar menanyakan kepada nabi Ibrahim tentang alasan perbuatan tersebut, nabi Ibrahim hanya diam saja, Akantetapi ketika Siti Hajar bertanya apakah ini perintah Allah swt ?, ketika juga nabi  Ibrahim mengiyakannya. Mendengar jawaban tersebut siti Hajar berkata : ” Kalau begitu, saya yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kami “. Sebuah pernyataan yang keluar dari wanita yang kokoh imannya. Tetapi walaupun begitu, Siti Hajar tidaklah begitu saja pasrah dengan keadaan, dan hanya duduk serta berdo’a kepada Allah menunggu datangnya pertolongam, akan tetapi dengan kekuatan imannya tersebut, beliau bangkit dan berusaha dengan sekuat tenaga mencari air untuk anaknya, berlarian pulang pergi antara bukit Shofa dan Marwah, sambil terus bertawakkal dan berkeyakinan bahwa Alah akan menolong dan membantu-Nya. Iya…nabi Ibrahim teelah meninggalkannya dan anaknya dengan perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Dengan keyakinan kuat seperti itu, maka keluarlah air zamzam dari kaki Ismail, hingga sampai sekarang bisa seluruh umat Islam bias menikmati hasil dari keimanan Siti Hajar tersebut.

Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Rosulullah saw pada perjanjian Hudaibiyah, ketika para sahabat sangat marah dan merasa dihinakan oleh kaum kafir Qurays dengan isi perjanjian yang tidak adil dan sangat merugikan kaum muslimin, mereka tidak bisa menerima isi perjanjian tersebut dan mengeluh kepada Rosulullah saw. Melihat keadaan para sahabatnya seperti itu, Rosulullah saw menghibur mereka dengan  sebuah pernyataan yang diukir oleh sejarah dengan tinta emas : ” Itu adalah ketentuan Allah, saya hanyalah hamba-Nya, dan saya yakin bahwa Allah swt tidaklah akan menyia-nyiakan diriku “. Begitulah kepercayaan seorang mukmin yang benar terhadap perintah dan ketentuan Allah swt, yang walaupun secara kasat mata mungkin merugikan dan tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi dia harus yakin bahwa dibalik semua itu ada maslahat yang lebih besar yang tidak diketahuinya. Dalam hal ini, Allah swt berfirman :

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( QS Al Bqarah : 216 )

Itulah salah satu makna dan arti dari kalimat tauhid : Lailaha illallah, yang artinya tidak ada yang bisa dijadikan tempat sandaran dan tawakkal kecuali  Allah swt.

Nilai Tauhid Ketujuh :

Ketika melakukan Sa’i antara Shofa dan Marwah, seorang yang melakukan ibadah haji diperintahkan untuk berdo’a dengan lafadh sebagai berikut :

الله أكبر، الله أكبر ، الله أكبر, لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، لا إله إلا الله وحده ، لا شريك له، أنجز وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده.

Allah Maha Besar 3x , Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang mempunyai kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu, Tiada ada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan pasukan Ahzab dengan sendiri saja.“

Do’a di atas diulang-ulang sebanyak tiga kali dan dibaca setiap naik sampai pada Shofa dan Marwah. Ini semua menunjukkan betapa besar ajaran tauhid dalam ibadah haji.

Nilai Tauhid Kedelapan :

Ketika Wukuf di padang Arafah yang merupakan  inti dan rukun dari ibadah haji, orang yang melakukan ibadah haji dianjurkan untuk banyak berdo’a, bersimpuh dan menangis di hadapan Allah swt serta memohon ampunan dan rahmat-Nya. Karena wukuf di Arafah adalah waktu yang paling utama dan berharga dalam hidup seseorang , pada saat –saat tersebut Allah akan menyelamatkan para hamba-Nya dari api neraka dan membanggakannya pada malaikat. Sebagaimana tersebut dalam salah satu haditsnya :

وروى ابن حبان من حديث جابر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: مَا مِنْ يَوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، يَنْزِلُ اللَّهُ تَعَالَى إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِأَهْلِ الْأَرْضِ أَهْلَ السَّمَاءِ

Diriwayatkan dari Ibnu Hibban dalam shohihnya dari hadust Jabir bahwasanya Rosulullah saw bersabda : ” Tiada hari yang paling utama di sisi Allah daripada hari Arafah , pada waktu itu Allah turun ke  langit yang paling dekat dan membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah  kepada para penghuni langit ”

Waktu-waktu yang mustajab untuk berdo’a adalah setelah tergelincir matahari hingga terbenam dan puncaknya adalah beberapa saat sebelum terbenam matahari. Yang unik dalam wukuf di Arafah ini adalah do’a yang pernah dilantunkan oleh Rosulullah saw, sebagaimana yang tersebut dalam salah satu haditsnya :

أفضل الدعاء يوم عرفة ، وأفضل ما قلته أنا والنبيون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير

Do’a yang paling utama pada hari Arafah dan perkataan paling utama yang pernah aku ucapkan dan diucapkan oleh paa nabi sebelumku adalah : ” Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang mempunyai kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu,( HR Tirmidzi, Ahmad dan Malik )

Kalau kita perhatikan hadist di atas, ternyata tidak kita dapatkan lafadh do’a, yang ada hanyalah lafadh pujian kepada Allah swt. Akan tetapi walau begitu Rosulullah saw menyebutnya dengan do’a. Hal serupa pernah ditanyakan seseorang kepada Sofyan bin Uyainah seorang pakar hadist pada zamannya, bahwa lafadh dalam hadist di atas bukanlah do’a, beliaupun menjawab bahwa Allah swt pernah berfirman dalam salah satu hadist qudsi-Nya :

إذا شغل عبدي ثناؤه على عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطى السائلين

Jika hamba-Ku sibuk dengan memuji-Ku ( dalam riwayat lain disebutkan : ” dengan mengingat-Ku ) sehingga lupa untuk berdo’a dan meminta kepada-Ku, maka niscaya Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama dari apa yang diminta oleh orang-orang yang mengucapkan do’a dan memohon banyak permintaan “

No comments:

Post a Comment